Featured Post

Pengalaman Saat Pandemi Corona Dua Kali Masuk Rumah Sakit

 

Pengalaman Saat Pandemi Corona Dua Kali Masuk Rumah Sakit - Bukan saya yang masuk rumah sakit, tapi Emak mertua. Bukan juga karena Covid-19, tetapi diabetesnya mulai kambuh lagi mendekati angka limaratus. Beliau juga punya riwayat darah tinggi, asma, dan asam urat. Tubuhnya lemas, kakinya nggak bisa buat jalan, dan tangan kiri seperti lumpuh tidak bisa mengangkat dengan sendirinya.



karangan pengalaman belajar di rumah pengalaman belajar di rumah selama covid pengalaman liburan pada masa pandemi covid-19 karangan pengalaman belajar di rumah selama covid cerita pengalaman selama belajar di rumah karena virus corona cerita belajar di masa pandemi




 

"Ibuk harus rawat inap, di rujuk ke rumah sakit, ya?" ucap Bu Dokter Puskesmas yang memeriksa beliau, "kalau nggak dirawat ibu bisa lumpuh!" tegas Bu Dokter lagi. Membuat emak mertua langsung mengangguk.

 

Sebelumnya, saya dan mas suami sudah merayu, sampai bibir ini berbusa agar emak mau diperiksa. Lagi-lagi beliau menggeleng, makin hari mungkin beliau sadar sendiri nggak bisa jalan seperti biasanya. Karena Emak masih punya tiga anak perempuan, kami lantas berdiskusi melalui confrence telepon. Berempat ngobrol, untuk mengambil langkah bijak. Ini semua demi kesehatan emak, tetapi ipar saya tidak menyetujui.

 

"Nanti kalau periksa dikira corona bagaimana?"

 

"Dokter mau nggak ya datang ke rumah memeriksa?"

 

"Sementara di rumah saja. Bahaya kalau dianggap corona."

 

Jujur saya kecewa, ini menurut saya sudah parah. Emak nggak bisa jalan, tangannya juga nggak bisa lagi di angkat, setiap hari merintih apalagi malam hari. Nggak bisa bikin nyenyak tidur lah intinya. Saya miris, antara mengasihani emak dan mengasihani diri saya sendiri. Saya diskusi kembali berdua dengan suami. Ini nggak bisa dibiarkan. Ipar saya karena tidak ngadepin, istilahnya merawat dan tinggal bersama kami mana bisa mengerti posisinya.

 

"Mas, kalau nggak corona ya nggak usah takut. Wong jelas-jelas emak itu diabetes basah, tahun lalu kan masuk rumah sakit juga to?" Mas suami manggut-manggut, membenarkan.

 

"Aku juga nggak tega, Dek ..." balas mas suami.

 

Dan benar saja, tengah malam beliau yang biasanya bisa pipis sendiri menggunakan ember, jatuh karena nggak seimbang dan lemas. Saya, mas suami, dan bapak mertua berembug. Intinya besok kudu periksa, nggak bisa dibiarkan. Apalagi menganggap sebelah mata. Drama menuju puskesmas juga penuh perjuangan. Emak nggak bisa diboceng motor kaerna lemas pun beliau gemuk, nggak ada mobil yang bisa dipinjam untuk membawa beliau ke puskesmas, jarak puskesmas jauh dari rumah. Untunglah ada tukang becak kenalan bapak mertua yang mau mengantarkan.

 

Begitu dokter bilang harus rawat inap, langsung saja keperluan dokumen di urus dan tinggal menunggu ambulan pengantaran untuk ke kota Kabupaten. Sebelum itu kami juga ditanyai banyak hal, apa ada riwayat keluarga yang bepergian di luar kota? Baik dari dokter sendiri, dan bagian pengurusan surat-surat. Karena memang tidak ada, kami menjawab jujur apa adanya. Wong saya dan mas suami di rumah saja.

 

Sesampainya di rumah sakit dan emak mendapatkan perawatan dengan baik, saya dan suami lega. Langkah yang kami tempuh sudah benar, mengupayakan apa yang masih bisa diusahakan. Akhirnya ipar saya mau datang juga menggantikan jaga, ditambah orderan masker yang belum kami kerjakan ada ratusan buah menunggu diselesaikan. Di mana masa pandemi semua orang butuh perlindungan, dan masker merupakan alat perlindungan diri paling utama ketika bepergian.

 

Di saat semua orang harus waspada berdiam diri di rumah, saya dan mas suami justru berada di rumah sakit. Menunggui Emak yang terbaring lemas. Mustahil tidak ada perasaan khawatir dalam diri, tapi saya dan mas suami saling menguatkan dan berpasrah. Lha kalau tidak ditangani takutnya emak semakin parah. Allhamdulillah Allah sebaik-baik penjaga, sampai dengan emak pulang. Kesehatan kami masih stabil, dan merasa lapang sudah melakukan yang terbaik. Saat ini Emak sedang masa pemulihan, mohon doa-doa terbaiknya untuk beliau. Tercatat di tahun 2020 emak sudah masuk rumah selama dua kali, di bulan berbeda. Bulan April dan bulan kelahiran saya, November, cerita di atas merupakan pengalaman saat pandemi COVID-19

 

 

Mengambil Makna Dibalik Covid-19

 

 


karangan pengalaman belajar di rumah pengalaman belajar di rumah selama covid pengalaman liburan pada masa pandemi covid-19 karangan pengalaman belajar di rumah selama covid cerita pengalaman selama belajar di rumah karena virus corona cerita belajar di masa pandemi




Sampai dengan hari ini Senin 22 Februari 2021, pademi Covid-19 sudah menyebabkan kematian di berbagai wilayah. Virus yang mematikan ini sudah merenggut 34.691 jiwa, 1.096.994 sembuh, dan 1.288.833 positif, sumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

 

Sedikit flash back, Covid-19 ini muncul pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina 31 Desember 2019. Kemudian menyebar begitu cepatnya, ke seluruh negeri dan tidak memandang usia. Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan tindakan ptareventif dan kuratif untuk menghentikan penyebarannya. Prtotokol kesehatan harus diterapkan dengan mengimbau agar dilakukannya pembatasan fisik. Presiden Jokowi memberikan intruksi kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk belajar dari rumah, bekerja, belajar, dan berkegiatan di rumah saja.

Virus corona sendiri bermula dari hewan liar kelelawar dan teringgiling yang menginveksi manusia, melalui kontak langsung (zoonosis), seperti halnya virus yang sudah ada lebih dahulu; SARS, MERS, dan Virus West Nile. Pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, merupakan anjuran penting yang harus ditaati agar tida tertular dengan penyebaran virus ini. Sugiyo Saputra, ahli mikrobiologi LIPI mengatakan jika virus ini timbul karena masalah lingkunga. Ada 60 persen penyakit infeksi penyakit zoonosis berasal dari hewan, sementara 2/3 lainnya dari satwa liar. Analisis yang sudah diteliti menyebutkan jika sejumlah penyakti baru muncul yang ternyata dikontribusikan dari aktivitas manusia itu sendiri terhadap alam. Seperti perambahan ke kawasan liar, hutan, dan perubahan demografi manusia (Wijaya, 2020). Yang kalau disimpulkan menjaga dan melestarikan lingkungan dan alam menjadi kunci, agar tidak muncul wabah sejenis lagi di waktu mendatang.

 

Namun, pandemi Covid-19 ini tidak selamanya berarti buruk. Ada banyak hal positif yang bisa diambil hikmahnya. Kondisi bumi jadi lebih sehat, udara jadi lebih segar karena tidak adanya polusi. Aktivitas pabrik juga berkurang, disinyalir dari Science Alert akhir Maret 2020 bahwa bumi perlahan-lahan menjadi membaik, lubang ozon akibat meningkatnya pemanasan global mulai tertutupi. Tidak hanya itu, adanya pandemi membuat manusia di seluruh belahan bumi saling peduli satu sama lain, saling menyemangati untuk terus bertahan.




karangan pengalaman belajar di rumah pengalaman belajar di rumah selama covid pengalaman liburan pada masa pandemi covid-19 karangan pengalaman belajar di rumah selama covid cerita pengalaman selama belajar di rumah karena virus corona cerita belajar di masa pandemi





 

Pernahkah mendengar tentang filosofi kupu-kupu yang hadir dari metamorfosis sempurna? Dari telur, larva, pupa, imago dewasa, kepompong kemudian menjadi kupu-kupu yang cantik. Di saat pembatasan sosial diberlakukan, seluruh aktivitas di luar berhenti dan melakukan kegiatan dari dalam rumah. Kita ibarat kupu-kupu tersebut, yang menjadikan rumah sebagai ‘kepompong kehidupan’ (Hardiyan, 2020). Work from home, learning from home, social distancing, ini memberikan pemaknaan yang luar biasa. Kita jadi lebih banyak mengingat kematian, mensyukuri masih diberikan cukup waktu,  dan bisa lebih dekat lagi dengan Tuhan, pemilik alam semesta ini. 



Menurut Mereka yang Telah Mendapatkan Vaksin Covid-19

 

 

Allhamdulillah kabar vaksin COVID-19 yang sudah ada di Indonesia membuat sedikit berlega hati, meski yang mendapatkan masih tahap terbatas. Siti Nadia Tarmizi juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan jika, "Saat ini tujuh juta vaksin sudah siap untuk didistribusikan dan akan segera sampai di 34 provinsi."

 

Beberapa sahabat saya yang mengemban tugas sebagai tenaga medis, sudah melakukan dua kali vaksinasi Covid-19. Saya sempat mengobrol dengan mereka bagaimana setelah divaksin rasanya. Ada yang bilang awalnya nervous, deg-gegan, grogi, dan lain sebagainya. Seteah divaksin ya pegel sehari dua hari, setelahnya biasa lagi.

 

"Maem aja dulu biar nggak pusing sebelum divaksin," pesan Nur Khayati sahabat saya yang jadi perawat dari rumah sakit swasta di Kendal.

 

"Jaga kesehatan fisik dan mental. Cukup istirahat dan jangan begadang, terus berdoa ini demi mengatasi pandemi," ucap Santi Artanti tenaga medis di Departemen Radioterapi RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, "kalo vaksinnya di tempat yg rame (antrian banyak), usahakan bawa tensimeter sendiri kalo punya. Abis vaksin juga kalo bisa jangan main ke mana-mana, tetep 3M. Karena antibodi baru terbentuk kurang lebih sebulan sejak vaksin kedua," lanjut Kak Santi kemudian.




karangan pengalaman belajar di rumah pengalaman belajar di rumah selama covid pengalaman liburan pada masa pandemi covid-19 karangan pengalaman belajar di rumah selama covid cerita pengalaman selama belajar di rumah karena virus corona cerita belajar di masa pandemi




 

 Akhir kata, mari kita selalu ikhtiar kepada Allah dan percaya bahwa apa pun yang menjadi kehendak-Nya itulah yang terbaik. Wabah Covid-19 telah mengubah dunia, membuat kita jadi intropeksi diri masing-masing. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sehat, sehingga bersama bisa menghasilkan wajah baru dunia yang lebih baik untuk peradaban manusia selanjutnya. Ingat untuk jangan malas bekerja setelah Covid-19 selesai, harus kembali rajin ke sekolah, dan jangan malas sholat berjamaah. Sehat selalu, bahagia terus, dan dilimpahi oleh-Nya kasih sayang yang tiada habisnya. Salam.


“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021




Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Komentar

  1. Ya Allah... semogaaaaaa kita semua sehaaatt ya mba
    Ada atau tdk ada pandemi, tetep kita kudu tawakkal dan bergantung hanya pd Allah ya.

    BalasHapus
  2. Memang benar-benar perjuangan hidup di tahun pandemi, dan semua memang selalu ada 2 hal, positi negatif, baik buruk, semua pasti dua sisi mata uang. Tinggal kita memanfaatkannya seperti apa. Di masa pandemi, ada bisnis yang lesu, ada bisnis yang malah makin naik. Yang penting selalu bersyukur yak.

    BalasHapus

Posting Komentar